MUSEUM VIRTUAL:
Kekayaan
Sungai Ayung

Kita, manusia, berhutang banyak pada sungai. Tidak hanya untuk alasan filosofis dan perkembangan kebudayaan, setiap harinya kita bergantung pada mereka sebagai sumber air irigasi pertanian kita, transportasi, tempat mencari makan seperti ikan atau operator pariwisata rafting, dan juga rekreasi pribadi seperti hobi memancing untuk melepas penat. Namun, kehadirannya kerap dibiarkan. Kita selalu menganggap sungai akan selalu ada dan tidak berubah, namun karena sebenarnya sungai adalah akumulasi proses dinamis, ia bisa berubah. Kesehatannya bergantung pada banyak indikator alami dan nonalami, termasuk bagaimana kita membuang limbah, mulai dari buangan pabrik atau sampah rumahan di badan air atau sekitarnya.

Museum virtual ini adalah upaya bersama Laboratorium Psikologi Politik dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Yayasan Species Obscura Indonesia untuk mengenalkan dan memperkenalkan jasa, kekayaan biodiversitas, dan keragaman aktivitas manusia di sepanjang Sungai Ayung, sungai terpanjang di Bali, dari rangkaian penelitian kolaboratif yang kami lakukan. Seluruh data yang ada di dalam museum virtual ini adalah hak cipta bersama tim kami dan dilarang digunakan atau direproduksi tanpa izin tertulis.

Nile River Painting by Andreas Riis Carstensen
Nile River Painting by Andreas Riis Carstensen

Sungai adalah sebuah fenomena alam yang merupakan akumulasi dari proses dinamika air di atas tanah - menjadikannya sebuah fitur geografis yang membantu kehidupan banyak makhluk hidup di seluruh penjuru Bumi. Jika kita perhatikan, peradaban-peradaban tua manusia yang dimulai pada akhir masa berburu dan meramu manusia, di mana manusia mulai tinggal menetap dan meninggalkan hidup nomaden, selalu dimulai di sungai besar. “River Valley Civilization” yang dimulai pada 4.000–3.100 SM, dimulai di lembah sungai Nil dan Tigris, menjadikan manusia mampu fokus pada pengembangan diri karena dapat bertani, ketimbang menghabiskan waktu untuk berburu hewan, memungkinkan manusia mengembangkan sistem sosial yang lebih kompleks, mulai dari etika hidup dan filsafat keilmuan. Sungai—pada perjalanan dan perubahannya, juga mampu mengubur materi organik selama ribuan tahun dan menjadikannya fosil.

River Tigris Painting by Edward Bawden
River Tigris Painting by Edward Bawden
Hulu Sungai Ayung, Desa Belok/Sidan
Hulu Sungai Ayung, Desa Belok/Sidan
Hilir Sungai Ayung, Desa Kesiman Petilan
Hilir Sungai Ayung, Desa Kesiman Petilan

⚠️ Untuk pengalaman terbaik, bukalah museum virtual ini dari layar komputer Anda. ⚠️

ANATOMI ALIRAN
Sungai Ayung

Kami menemukan spesies menarik, bioindikator kesehatan ekosistem, juga spesies invasif. Sayangnya, kami juga menemukan bahwa sepanjang aliran Sungai Ayung telah tercemar sampah dengan konsentrasi yang cukup tinggi, dengan jenis sampah dominan adalah plastik sekali pakai, sampah rumah tangga, dan limbah wisata. Peningkatan kepadatan sampah tersebut sebesar:

18.36
gr/m2

222.6
gr/m2

dalam 7 tahun

Lihat data lebih detail di setiap bagian Sungai Ayung di bawah dengan klik tombol "Lihat Data".

HULU SUNGAI

SITE RISET

Hulu sungai bisa berupa gletser atau mata air. Di Sungai Ayung, hulunya adalah mata air-mata air kecil, membentuk aliran air yang dangkal, namun deras pada saat turun hujan. Biodiversitas atau keragaman hayati di hulu untuk kelompok ikan, umumnya lebih rendah dari zona selanjutnya seperti transisi dan hilir. Hulu sungai umumnya berada di pegunungan atau dataran tinggi, dan biasanya terletak di area agrikultur yang sangat penting bagi masyarakat.

TRANSISI

SITE RISET

Zona transisi adalah pertemuan dari sungai-sungai kecil di area hulu, biasanya menjadi satu badan sungai yang besar dan dalam. Di Sungai Ayung, karakteristik zona transisi umumnya ditandai dengan sungai yang lebar, dalam, dan debit yang cukup deras untuk wisata rafting. Bendungan juga banyak dijumpai di area ini.

HILIR SUNGAI

SITE RISET

Hilir sungai pertemuan semua aliran sungai menjadi satu badan besar yang kemudian akan bermuara ke laut. Di banyak daerah, hilir sungai umumnya yang paling padat penduduk, pertemuan pemukiman warga dan industri perkotaan, dan menjadi area kunci banjir yang harus diwaspadai.

Menjaga
SUNGAI AYUNG

Menjaga Sungai Ayung adalah upaya kolektif yang harus dilakukan semua orang tanpa terkecuali. Hanya dengan usaha bersama, upaya ini akan berhasil. Inilah yang harus kita lakukan:

Pilah sampah dari rumah, jangan buang sampah atau limbah kimia industri di sungai

Jangan lepas satwa peliharaan di sungai saat sudah tidak sanggup pelihara

Jangan lepas bibit ikan asing atau yang bukan spesies asli di sungai tersebut

Salah satu temuan ikan lokal di Sungai Ayung adalah ikan nilem (Osteochilus vittatus). Ikan ini dapat menjadi bioindikator untuk kondisi perairan yang masih layak (masih punya produktivitas alami berupa alga/perifiton, pencemaran tidak berat, dan kualitas air masih layak). Mari kita jaga bersama habitatnya:

⚠️ Anda dapat menggerakkan model 3-dimensi ikan nilem di atas dengan mouse pada desktop atau jari pada handphone Anda ⚠️

Proses Riset &
KOLEKSI DATA

Kami berterima kasih pada segenap pihak yang telah memungkinkan berlangsungnya pengambilan data untuk museum virtual ini (pemangku adat dan desa Desa Belok/Sidan, Desa Pelaga, Desa Bongkasa, Desa Abiansemal, Desa Kesiman, dan Desa Kesiman Petilan; tim asisten riset profesional: Muhammad Nurdin, Danny Raditya Purwandaya, Alexander Regio; dan tim asisten riset mahasiswa: Davis Marthin Damaledo, Gabriela Yustina Nur, Marloni Ana Milla, Ketut Yana Hartanti).

Tim penelitian untuk koleksi data yang terdapat di museum virtual ini terbagi menjadi tiga tim: makroplastik, biodiversitas, dan psikologi. Tim biodiversitas terbagi ke dalam akuatik, artropoda, mamalia terbang, reptil, dan amfibi. Pengambilan data berlangsung selama beberapa bulan di 5 titik data penelitian dan dibantu oleh tim asisten mahasiswa lokal. Metode yang digunakan telah dipilih yang terbaik oleh masing-masing tim sesuai kondisi lapangan dan strategi efisiensi.

HAK CIPTA & SITASI

Teks, ilustrasi, dan gambar yang dipamerkan di Museum Virtual Kekayaan Sungai Ayung dilindungi oleh hak cipta dan milik Yayasan Species Obscura dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (kecuali gambar lain yang memiliki nama penulis lain). Tidak ada bagian dari Museum Virtual Kekayaan Sungai Ayung yang boleh direproduksi secara komersial dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit. Materi di situs web ini dapat digunakan dan didistribusikan di ruang kelas untuk tujuan pendidikan non-komersial. Jika Anda menggunakan informasi dari situs web ini untuk penelitian dalam menulis artikel untuk publikasi, sekolah, atau produksi TV, harap kutip sebagai:

Yayasan Species Obscura Indonesia & Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. (2026). Museum Virtual Kekayaan Sungai Ayung, https://speciesobscura.org/ayung

atau

Nama Penulis Tamu. (2026). Dalam Yayasan Species Obscura Indonesia & Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. [Ed]. Museum Virtual Kekayaan Sungai Ayung, https://speciesobscura.org/ayung

Proyek ini adalah kolaborasi multipihak:

Contact Us

Jl. Duren 1 No.2 RT003/RW009 Depok, Jawa Barat 16434, Indonesia

© 2024 Species Obscura Registered Non-profit Nomor AHU-0001312.AH.01.04.Tahun 2025
Privacy Policy